Jumat, Januari 21, 2011

Nilai Ujian Semester Filsafat Pendidikan

Hasil Ujian Semester Mata Kuliah Filsafat Pendidikan pada tanggal 11-12 Januari 2011 secara onLine beberapa waktu yang lalu dapat dilihat pada halaman berikut. Klik read more (Baca selengkapnya) dan Silahkan untuk mendowload.





Baca Selengkapnya..

Rabu, November 03, 2010

Ujian Tengah Semester

UJIAN TENGAH SEMESTER (QUIZ) Mata Kuliah Filsafat Pendidikan dinyatakan telah berakhir. Terimakasih atas perhatian, keseriusan, dan jerih payah anda untuk memberikan jawaban yang terbaik. Niat dan usaha anda jauh lebih berharga dari materi jawaban yang anda berikan. Orang akan mengerti betapa pentingnya sebuah ilmu ketika ia harus melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Maka perlakuan dan perbuatan yang baik adalah sebuah realisasi dari fikiran yang baik, itulah sebenarnya hakikat orang berfilsafat!!!. Salam untuk anda....!

Baca Selengkapnya..

Minggu, Oktober 31, 2010

Aliran Filsafat Pendidikan

Brubacher (1950) mengelompokkan filsafat pendidikan pada dua kelompok besar, yaitu

a. Filsafat pendidikan “progresif”
Didukung oleh filsafat pragmatisme dari John Dewey, dan romantik naturalisme dari Roousseau
b. Filsafat pendidikan “ Konservatif”.
Didasari oleh filsafat idealisme, realisme humanisme (humanisme rasional), dan supernaturalisme atau realisme religius.
Filsafat-filsafat tersebut melahirkan filsafat pendidikan esensialisme, perenialisme,dan sebagainya.

Berikut aliran-aliran dalam filsafat pendidikan:
1. Filsafat Pendidikan Idealisme memandang bahwa realitas akhir adalah roh, bukan materi, bukan fisik. Pengetahuan yang diperoleh melaui panca indera adalah tidak pasti dan tidak lengkap. Aliran ini memandang nilai adalah tetap dan tidak berubah, seperti apa yang dikatakan baik, benar, cantik, buruk secara fundamental tidak berubah dari generasi ke generasi. Tokoh-tokoh dalam aliran ini adalah: Plato, Elea dan Hegel, Emanuael Kant, David Hume, Al Ghazali

2. Filsafat Pendidikan Realisme merupakan filsafat yang memandang realitas secara dualitis. Realisme berpendapat bahwa hakekat realitas ialah terdiri atas dunia fisik dan dunia ruhani. Realisme membagi realitas menjadi dua bagian, yaitu subjek yang menyadari dan mengetahui di satu pihak dan di pihak lainnya adalah adanya realita di luar manusia, yang dapat dijadikan objek pengetahuan manusia. Beberapa tokoh yang beraliran realisme: Aristoteles, Johan Amos Comenius, Wiliam Mc Gucken, Francis Bacon, John Locke, Galileo, David Hume, John Stuart Mill.

3. Filsafat Pendidikan Materialisme berpandangan bahwa hakikat realisme adalah materi, bukan rohani, spiritual atau supernatural. Beberapa tokoh yang beraliran materialisme: Demokritos, Ludwig Feurbach

4. Filsafat Pendidikan Pragmatisme dipandang sebagai filsafat Amerika asli. Namun sebenarnya berpangkal pada filsafat empirisme Inggris, yang berpendapat bahwa manusia dapat mengetahui apa yang manusia alami. Beberapa tokoh yang menganut filsafat ini adalah: Charles sandre Peirce, wiliam James, John Dewey, Heracleitos.

5. Filsafat Pendidikan Eksistensialisme memfokuskan pada pengalaman-pengalaman individu. Secara umum, eksistensialisme menekankn pilihan kreatif, subjektifitas pengalaman manusia dan tindakan kongkrit dari keberadaan manusia atas setiap skema rasional untuk hakekat manusia atau realitas. Beberapa tokoh dalam aliran ini: Jean Paul Satre, Soren Kierkegaard, Martin Buber, Martin Heidegger, Karl Jasper, Gabril Marcel, Paul Tillich

6. Filsafat Pendidikan Progresivisme bukan merupakan bangunan filsafat atau aliran filsafat yang berdiri sendiri, melainkan merupakan suatu gerakan dan perkumpulan yang didirikan pada tahun 1918. Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang. Pendidikan harus terpusat pada anak bukannya memfokuskan pada guru atau bidang muatan. Beberapa tokoh dalam aliran ini : George Axtelle, william O. Stanley, Ernest Bayley, Lawrence B.Thomas, Frederick C. Neff

7. Filsafat Pendidikan esensialisme Esensialisme adalah suatu filsafat pendidikan konservatif yang pada mulanya dirumuskan sebagai suatu kritik pada trend-trend progresif di sekolah-sekolah. Mereka berpendapat bahwa pergerakan progresif telah merusak standar-standar intelektual dan moral di antara kaum muda. Beberapa tokoh dalam aliran ini: william C. Bagley, Thomas Briggs, Frederick Breed dan Isac L. Kandell.

8. Filsafat Pendidikan Perenialisme Merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada abad kedua puluh. Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Mereka menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru. Perenialisme memandang situasi dunia dewasa ini penuh kekacauan, ketidakpastian, dan ketidakteraturan, terutama dalam kehidupan moral, intelektual dan sosio kultual. Oleh karena itu perlu ada usaha untuk mengamankan ketidakberesan tersebut, yaitu dengan jalan menggunakan kembali nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kukuh, kuat dan teruji. Beberapa tokoh pendukung gagasan ini adalah: Robert Maynard Hutchins dan ortimer Adler.

9. Filsafat Pendidikan rekonstruksionisme merupakan kelanjutan dari gerakan progresivisme. Gerakan ini lahir didasarkan atas suatu anggapan bahwa kaum progresif hanya memikirkan dan melibatkan diri dengan masalah-masalah masyarakat yang ada sekarang. Rekonstruksionisme dipelopori oleh George Count dan Harold Rugg pada tahun 1930, ingin membangun masyarakat baru, masyarakat yang pantas dan adil. Beberapa tokoh dalam aliran ini:Caroline Pratt, George Count, Harold Rugg.

Baca Selengkapnya..

Paradigmatika Manusia

Sejarah perjalanan perkembangan keyakinan dan pemikiran umat manusia tentang pendidikan telah melahirkan sejumlah paradigma kemanusiaan yang melandasinya. Ttterdapat tiga paradigma yang dirasakan masih dominan pengaruhnya hingga saat ini, yang secara kebetulan ketiganya lahir pada jaman abad pencerahan menejelang zaman modern.(
1) Nativisme atau Naturalisme, dengan tokohnya antara lain. J.J. Rousseau (1712-1778) dan Schopenhauer (1788-1860 M). Pahaam ini berpendirian bahwa setiap bayi lahir dalam keadaan suci dan dianugerahi dengan potensi insaniyah yang dapat berkembang secara alamiah. Karena itu, pendidikan pada dasarnya sekedar merupakan suatu proses pemberian kemudahan agar anak berkembang sesuai dengan kodrat alamiahnya. Pandangan ini diidentifikasikan sebagai konsepsi pendidikan yang cenderung pesimistik.
2) Empirisme atau Environtalisme, dengan tokohnya antara lain John Locke (1632-1704 M) dan J. Herbart (1776-1841 M). Aliran ini berpandangan bahwa manusia lahir hanya membawa bahan dasar yang masih suci namun belum berbentuk apapun, bagaikan papan tulis yang masih bersih belum tertulisi (Tabula Rasa, Locke ) atau sebuah bejana yang masih kosong (Herbart). Atas dasar itu, pendidikan pada hakikatnya merupakan suatu proses pembentukan dan pengisian pribadi peserta didik ke arah pola yang diinginkan dan diharapkan lingkungan masyarakatnya. Pandangan ini diidentifikasikan sebagai konsepsi pendidikan yang cenderung optimistik.
(3) Konvergensionisme atau Interaksionisme, dengan tokohnya antara lain William Stern (1871-1939). Pandangan ini pada dasarnya merupakan perpaduan dari kedua pandangan terdahulu. Menurut pandangan ini, baik pembawaan anak maupun lingkungan merupakan faktor-faktor yang determinan terhadap perkembangan dan pembentukan pribadi peserta didik. Oleh karenanya, pendidikan pada hakekatnya merupakan suatu rangkaian peristiwa interaksi antara pembawaan dengan lingkungan. Pribadi peserta didik akan terbentuk sebagai resultante atau hasil interaksi dari kedua faktor determinan tersebut. Pandangan ini diidentifikasikan sebagai konsepsi pendidikan yang cenderung rasional.

Baca Selengkapnya..

Mengapa Filsafat Pendidikan

Filsafat pendidikan harus dapat menjawab empat pertanyaan pendidikan secara menyeluruh, yaitu :

1. Apakah pendidikan itu?
2. Mengapa manusia harus melaksanakan pendidikan?
3. Apakah yang seharusnya dicapai oleh pendidikan?
4. Dengan cara bagaimana cita-cita pendidikan yang tersurat maupun yang tersirat dapat dicapai?
Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut bergantung pada pandangan hidup dan tujuan hidup manusia. Filsafat pendidikan tidak hanya terbatas pada fakta faktual, tetapi harus sampai pada penyelesaian tuntas tentang baik dan buruk, persyaratan hidup sempurna, serta bentuk kehidupan individual maupun sosial yang baik dan sempurna. Jadi, peranan filsafat pendidikan merupakan sumber pendorong adanya pendidikan dan menjadi jiwa juga sekaligus pedoman asasi pendidikan.

Baca Selengkapnya..

Sabtu, Oktober 30, 2010

Persoalan Filsafat

Ada enam persoalan yang selalu menjadi bahan perhatian para filsuf dan memerlukan jawaban secara radikal, dimana tiap-tiapnya menjadi salah satu cabang dari filsafat yaitu : ada, pengetahuan, metode, penyimpulan, moralitas, dan keindahan.
1. Tentang ”Ada”
Persoalan tentang ”äda” ( being ) menghasilkan cabang filsafat metafisika; dimana sebagai salah satu cabang filsafat metafisika sendiri mencakup persoalan ontologis, kosmologi ( perkembangan alam semesta ) dan antropologis ( perkembangan sosial budaya manusia ). Ketiga hal tersebut memiliki titik sentral kajian tersendiri.

2. Tentang ”Pengetahuan” ( knowledge )
Persoalan tentang pengetahuan ( knowledge ) menghasilkan cabang filsafat epistemologi ( filsafat pengetahuan ). Istilah epistemologi sendiri berasal dari kata episteme dan logos. Episteme berarti pengetahuan dan logos berarti teori. Jadi, epistemologi merupakan salah satu cabang filsafat yang mengkaji secara mendalam dan radikal tentang asal mula pengetahuan, struktur, metode dan validitas pengetahuan.
3. Tentang ”Metode”( method )
Persoalan tentang metode ( method ) menghasilkan cabang filsafat metologi atau kajian / telaah dan penyusunan secara sistematik dari beberapa proses dan azas-azas logis dan percobaan yang sistematis yang menuntun suatu penelitian dan kajian ilmiah; atau sebagai penyusun ilmu-ilmu vak.
4. Tentang ”Penyimpulan”
Logika ( logis ) yaitu ilmu pengetahuan dan kecakapan untuk berpikir tepat dan benar. Dimana berpikir adalah kegiatan pikiran atau akal budi manusia. Logika sendiri dapat dibagi menjadi 2, yaitu logika ilmiah dan logika kodratiah. Logika bisa menjadi suatu upaya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti : Adakah metode yang dapat digunakan untuk meneliti kekeliruan pendapat? Apakah yang dimaksud pendapat yang benar? Apa yang membedakan antara alasan yang benar dengan alasan yang salah? Filsafat logika ini merupakan cabang yang timbul dari persoalan tentang penyimpulan.
5. Tentang ”Moralitas” ( morality )
Moralitas menghasilkan cabang filsafat etika ( ethics ). Etika sebagai salah satu cabang filsafat menghendaki adanya ukuran yang bersifat universal.
6. Tentang ”Keindahan”
Estetika adalah salah satu cabang filsafat yang lahir dari persoalan tentang keindahan. Merupakan kajian kefilsafatan mengenai keindahan dan ketidakindahan. Lebih jauhnya lagi, mengenai sesuatu yang indah terutama dalam masalah seni dan rasa serta norma-norma nilai dalam seni.

Baca Selengkapnya..

Mengapa Manusia Berfilsafat?

Mengulang judul diatas, mengapa manusia berfilsafat? Kekaguman atau keheranan, keraguan atau kesangsian, dan kesadaran akan keterbatasan merupakan 3 hal yang mendorong manusia utuk berfilsafat.
Plato (filsuf Yunani, guru dari Aristoteles ) menyatakan bahwa : Mata kita memberi pengamatan bintang-bintang, matahari, dan langit. Pengamatan ini memberi dorongan kepada kita untuk meyelidiki. Dan dari penyelidikan ini berasal filsafat.
Berbeda dengan Plato; Agustinus dan Rene Descartes beranggapan lain. Menurut mereka, berfilsafat itu bukan dimulai dari kekaguman atau keheranan, tetapi sumber utama mereka berfilsafat dimulai dari keraguan atau kesangsian. Ketika manusia heran, ia akan ragu-ragu dan mulai berpikir apakah ia sedang tidak ditipu oleh panca inderanya yang sedang keheranan?Rasa heran dan meragukan ini mendorong manusia untuk berpikir lebih mendalam, menyeluruh dan kritis untuk memperoleh kepastian dan kebenaran yang hakiki. Berpikir secara mendalam, menyeluruh dan kritis seperti ini disebut dengan berfilsafat.
Bagi manusia, berfilsafat dapat juga bermula dari adanya suatu kesadaran akan keterbatasan pada dirinya. Apabila seseorang merasa bahwa ia sangat terbatas dan terikat terutama pada saat mengalami penderitaan atau kegagalan, maka dengan adanya kesadaran akan keterbatasannya itu manusia berfilsafat. Ia akan memikirkan bahwa diluar manusia yang terbatas, pastilah ada sesuatu yang tidak terbatas yang dijadikan bahan kemajuan untuk menemukan kebenaran yang hakiki.

Baca Selengkapnya..

Kamis, Desember 24, 2009

Soal Ujian Akhir Semester

Dengan berakhirnya presentasi Mata Kuliah Psikologi Pendidikan Semester Ganjil Tahun Akademik 2009/2010, maka sebagai bentuk evaluasi hasil pembelajaran dilaksanakn Ujian Akhir Semester dengan ketentuan sebagai berikut:

1. Ujian Akhir Semester berlangsung secara online sesuai dengan soal dan form jawaban yang telah disediakan.

2. Pelaksanaan Ujian dimulai sejak hari Jum'at, 25 Desember 2009 jam 20.00 Wita hingga hari Minggu, 10 Januari 2010 jam 24.00 Wita.

3. Lewat batas waktu tersebut di atas, maka jawaban susulan dalam bentuk apapun tidak akan diterima.

4. Jawaban diwajibkan bersifat orisinal, mandiri, dan tidak merupakan hasil kerjasama


SOAL:

1. Ketengahkan pengertian belajar dan apa karakteristik yang membedakan antara kegiatan belajar dan yang bukan belajar

2. Buat identifikasi gaya-gaya belajar yang menjadi kecenderungan anda selama ini, apa kesulitan yang anda alami, dan menurut anda, bagaimana cara mengatasinya?

3. Buatkan sebuah Review tentang buku apa saja yang anda baca dengan mengacu kepada strategi Membaca Cepat (SQ3R)


Berikan Jawaban Anda pada kolom yang telah disediakan, lalu klik "kirim".

Nama Lengkap
NIM
Jurusan/Prodi
Jawaban
Image Verification
captcha
Please enter the text from the image:
[ Refresh Image ] [ What's This? ]



Baca Selengkapnya..

Sabtu, Oktober 24, 2009

Nurani Sang Ibu

Sebuah Psikologi Cinta

Alkisah, terdapat dua perempuan (tua dan muda) yang sama-sama memiliki anak bayi. Bayi dari perempuan tua itu dimakan Serigala. Karena takut suaminya marah, perempuan tua merebut bayi perempuan muda dan mengajukan kasusnya ke mahkamah keadilan. Mahkamah keadilan yang dipimpin oleh Nabi Dawud memenangkan perempuan tua, karena ia dapat mengemukakan alasan yang rasional (maklum waktu itu belum ditemukan tes DNA). Melihat putusan yang tidak adil itu, perempuan muda naik banding.
Ia mengajukan kasusnya ke mahkamah keadilan dan meminta agar sidangnya dipimpin Nabi Sulaiman (Anak Nabi Dawud). Untuk memberi keadilan pada kedua perempuan itu, Sulaiman mengambil pisau dan akan membelah tubuh bayi menjadi dua bagian. Separuh untuk perempuan tua dan separuh yang lain untuk perempuan muda. Melihat cara seperti itu, nurani perempuan muda (sang ibu) tidak tega anaknya dibelah. Dengan terpaksa ia mengatakan: jangan lakukan, Allah mengasihi anak ini, biarlah bayi itu untuknya. Karena ucapan itu, Sulaiman memutuskan bahwa bayi itu milik perempuan muda, sebab tak mungkin seorang ibu tega melihat bayinya dibelah menjadi dua.
Hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Abu Hurairah di atas menunjukkan kejujuran nurani. Ketika nurani berbicara, tak satu pun rekayasa rasio mampu melawannya, apalagi nurani itu diungkapkan oleh sang ibu yang memiliki tingkat kepekaan nurani yang tinggi. Menurut Erich Fromm dalam The Art of Loving, nurani kecintaan sang ibu tanpa syarat terhadap kebutuhan anak-anaknya. Penguatan itu muncul dalam dua bentuk: Pertama, perhatian dan tanggung jawab yang mutlak, demi pemeliharaan hidup anak dan perkembangannya; Kedua, sikap kepada anak untuk menanamkan cinta akan kehidupan dengan penuh perasaan. Kecintaan nurani ini dinilai sebagai cinta yang paling tinggi dan suci dari segala ikatan emosional.
Nurani keibuan merupakan nurani altruistik yang selalu mementingkan orang lain. Ia rela memberikan kebahagiaan untuk anak yang dicintai, meskipun dirinya menderita. Nurani keibuan terkait dengan pertumbuhan anak, baik pisik maupun psikis, tetapi ia tidak menuntut penyatuhan diri. Ia rela berpisah pada anak yang dicintai dan melepaskannya untuk dicintai dan diambil oleh orang lain. Nurani keibuan bersifat fitriah dan naluriah yang pertumbuhannya tidak didorong atau dipaksakan oleh motif-motif tertentu. Nurani keibuan dalam Islam dilukiskan sebagai nurani yang memancar dari syurga, satu nurani yang membawa kedamaian, ketenangan, dan kasih sayang. Nurani keibuan memiliki kualitas tertinggi dalam bursa cinta yang ada. Sabda Nabi Saw.: Sesungguhnya syurga itu di bawah kedua kaki-nya (ibu). (HR. al-Nasai dari Mu awiyah bin Jahimah al-Salami)

Tulisan Prof. DR. Abdul Mujib, MA

Baca Selengkapnya..

Kamis, Oktober 01, 2009

Ujian Tengah Semester

Diberitaukan kepada seluruh Mahasiswa STIT Grogot Pengikut Mata Kuliah Psikologi Pendidikan, bahwa Ujian Tengah Semester dilaksanakan sejak hari Rabu, tgl 7 Oktober 2009. Jawaban diterima selambat-lambatnya tanggal 18 Oktober 2009 pukul 24.00 Wita. Soal dan FORM JAWABAN dapat anda lihat dengan mengklik "baca selengkapnya" berikut ini!


I. PETUNJUK


1. Baca dan pahamilah soal berikut dengan seksama
2. Jawablah dengan ringkas, padat, dan jelas.
3. Jawaban haruslah orisinil dari kemampuan anda sendiri
4. Jawaban selambat-lambatnya sudah diterima pada tanggal 18 Oktober 2009 pukul 24.00

II. SOAL

1. Pendidikan dipahami sebagai upaya "memanusiakan manusia", sebutkan beberapa aspek penting dalam proses pendidikan agar tujuan tersebut tercapai!

2. Mengapa mazhab psikologi kognitif muncul? Asumsi dasar apa yang mereka miliki, dan apa kepentingannya dalam dunia pendidikan sekarang?

3. Buatkan penjelasan perbandingan mengenai struktur kepribadian antara teori Psikoanalisisnya Sigmund Freud dan teori Alquran!


Berikan Jawaban Anda pada kolom yang telah disediakan, lalu klik "kirim".

Nama Lengkap
NIM
Jurusan/Prodi
Jawaban
Image Verification
captcha
Please enter the text from the image:
[ Refresh Image ] [ What's This? ]


Baca Selengkapnya..

Minggu, November 23, 2008

BELAJAR: Pengertian, Faktor, dan Gaya

Pengertian Belajar

Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah aku yang potensial terhadap situasi tertentu yang diperoleh dari pangalaman yang dilakukan secara berulang-ulang Hilgard, (1981).
Menurut inger (1980), belajar adalah perubahan-perubahan perilaku yang potensial yang tercermin sebagai akibat dari latihan dan pengalaman masa lalu terhadap situasi tugas tertentu. Belajar menurut pendapat para ahli lain adalah perubahan tingkat laku atau perubahan kecakapan yang mampu bertahan dalam waktu tertentu dan bukan berasal dari proses pertumbuhan...

Berdasarkan beberapa pengertian tersebut dapat diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku yang relatif permanen sebagai akibat dari latihan atau pengalaman. Perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar memiliki pengertian yang luas, bisa berupa keterampilan fisik, verbal, intelektual, maupun sikap.
Menurut Bloom (1955), perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar dapat dikelompokkan ke dalam 3 ranah, yaitu: a) kognitif, b) afektf, c) psikomotor.

Faktor- faktor yang mempengaruhi belajar, yaitu:

a. Faktor Internal.
Adalah faktor yang berasal dari diri subyek belajar. Faktor ini dibedakan menjadi dua:
1. Internal-Psikologis. Adalah faktor yang berhubungan dengan kejiwaan subyek. Terutama dalam hal ini adalah motivasi
yang mendasari seseorang untuk belajar. apa yang mendasari seseorang untuk belajar.
2. Internal-Fisiologis. Adalah faktor yang berhubungan dengan jasmani subyek, misalnya: kondisi fit atau lelah, gizi
cukup atau kurang, mengantuk atau terjaga.
b. Faktor Eksternal.
Adalah faktor yang berasal dari lingkungan pada saat belajar.
1. Eksternal-Sosial. Adalah kondisi lingkungan tempat belajar dilakukan, terutama yang berhubungan dengan sosialnya,
misalnya: kenyamanan tempat belajar, kondisi latar belakang sosial, dan budaya belajar.
2. Eksternal-Non Sosial. Adalah faktor sarana-prasarana atau fasilitas belajar, misalnya: waktu, kondisi suhu ruangan,
keluasan ruang, cuaca, alat peraga, pencahayaan, dan lain-lain.

Gaya Belajar:
Secara garis besar, gaya belajar seseorang dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:
a. Tipe Auditori: Tipe orang yang lebih mudah menerima pelajaran dengan pendengaran yang lebih dominan.
b. Tipe Visual: Tipe orang yang lebih mudah menerima pelajaran dengan pengelihatan yang lebih dominan.
c. Tipe Kinestetik: Tipe orang yang lebih mudah menerima pelajaran yang dilakukan dengan gerakan.
d. Disamping itu pula ada tipe campuran, misalnya Ausioteri-Visual atau Visual-Kinestetik atau bisa ketigatiganya.

Jadi, bagaimana saya harus belajar?
1. KENALI TIPE BELAJARMU. Dengan begitu kamu bisa mengerti bagaimana atau dengan apa kamu harus belajar.
• Jika kamu termasuk tipe Audioteri à memanfaatkan media seperti radio/ televisi, membaca buku dengan mengeraskan
suara dan belajar di kelas dengan mendengarkan penjelasan guru.
• Jika kamu termasuk tipe Visual à memanfaatkan media visual (media cetak/elektronik), membaca buku (apalagi yang
bergambar), membuat pengertian dengan menggambar apa yang dipelajari, dan belajar dengan gambar/tabel.
• Jika kamu termasuk tipe kinestetik à memperagakan apa yang kamu pelajari, menggunakan gesture (gerak tubuh),
melakukan percobaan dan sebagainya.
2. BANGUN MOTIVASI DARI DALAM DIRI SENDIRI
Motivasi dari dalam diri sendiri lebih besar pengaruhnya untuk mencapai kesuksesan.
Salah satu cara membangun motivasi adalah dengan memiliki tujian atau cita-cita. Kembangkan cita-citamu, maka kamu
akan bersemangat meraihnya.
Belajarlah secara rutin setiap hari. Belajar dapat dilakukan dengan cara mengulangi setiap materi yang baru dipelajari di
sekolah dan membaca beberapa halaman materi yang akan dipelajari di sekolah keesokan hari.
4. SIAPKAN KONDISI FISIKMU. Belajarlah dalam kondisi tubuh sedang fit atau sehat. Maka dari itu, jangan terlalu
banyak beraktifitas yang menguras energi sesaat sebelum belajar.
5. PILIH LINGKUNGAN SOSIAL YANG KONDUSIF. Pilihlah tempat belajar yang tidak terlalu ramai. Ada baiknya belajar
dengan teman yang lebih mengerti sehingga kamu bisa bertanya jika ada yang tidak kamu mengerti.
6. LINGKUNGAN FISIK YANG MEMADAI. Usahakan belajar di tempat yang sejuk, pencahayaan cukup, dan yang
memiliki sirkulasi udara yang baik. Akan lebih baik jika kamu mempunyai alat peraga atau fasilitas belajar lain yang
dapat membantu kamu dalam memahami pelajaran.

Baca Selengkapnya..

Selasa, November 18, 2008

TEORI BELAJAR SOSIAL


1. Teori Belajar

Lingkungan sosial menyediakan bermacam-macam kesempatan untuk memperoleh ketrampilan dan kecakapan dengan jalan mengamati pola-pola tingkah laku beserta akibat-akibatnya atau konsekuensi-konsekuensinya....



Asumsi pernyataan ini ada tiga macam :
1. Hakekat proses belajar
2. Hubungan antara individu dengan lingkungan
3. Hasil belajar
1. Hakekat proses balajar
Teori belajar sosial mulai dengan menganalisis dddddua hal :
1. Teori behavioristik
2. Teori tentang sosialisasi anak
1) Teori Behaforistik
Teori ini memandang belajar itu sebagai hubungan antara stimulus dan respon. Menurut Bandura teori ini mengandung tiga kelemahan :
a) Penelitiannya terbatas dalam situasi laboratoriumsehingga tidak dapat menjelaskan dengan baik tentang belajar dalam situasi alami, yang diteliti hanyalah peniruan individu terhadap serangkaian respons tertentu tanpa memperdulikan ubahan-ubhan sosial yang ada.
b) Teori ini tidak mampumenjelaskan denagn baik tentang diperolehnya respon-respons baru. Dalam situasi alami, oarng berbuat lebih banyak daripada hanya sekedar meniru tingkah laku yang diamatinya.
c) Teori ini hanya menangani belajar langsung, yaitu oarang melakukan sesuatu dan mengalami akibat-akibatnya.
2). Teori tentang Sosialisasi anak
Teori behasioristik hanya terbatas pada hubungan S – R (stimulus – Respons) saja.sedangkan teori belajar sosial beranggapan bahwa hubungan antarpribadi antara anak denagnorang dewasa menyebabkan anak mniru atau menyerap perilaku-perilaku sosial.melalui interaksi sosial anak melakukan identifikasi dengan orang tuanya, dengan kekuasaan, denganperasaan iri dan sebagainya.

1. Hubungan Antara Individu dengan Lingkungan
Menurut teori belajar sosial ,tingkah laku dan lingkungan itu dapat dimodifikasikan; keduanya tidak dapat disebut sebagai penentu utama perubahan tingkah laku .jadi, menurut Bandura ada hubungan tiga arah yang saling mengunci: tingkah laku, ligkungan dan peristiwa-peristiwa batiniah yang mempengaruhi persepsi dan tindakan.
Hubungan antara lingkungan, tingkah laku dan peristiwa-peristiwa batiniah itu sering kali bersifat kompleks. Pada gilirannya ,konsepsi diri sendiri atau seseorang dipengaruhi oleh tingkah luka atau perilaju yang serupa sehingga prasangka-prasangka tersebut mengalami perubuha atau sebaliknya
Hubungan antara tiga factor tersebut adalah reciprocal diterminism, atau diterminisme timbal balik. Istilah determinisme disini tidak berarti bahwa individu itu ditentukan oleh ‘sebab’ yang sudah ada sebelumnya, tetapi bahwa akibat-akibat yang timbul disebabkan oleh peristiwa yang teerjadi.

1. Hasil Belajar
Hubungan tiga arah antara factor tersebut menegaskan bahwa prose kognitif dan factor priubadi lainnya mempengaruhi. Di dalam teori belkajar sosial, belajar dan perforemanc (tingkah laku) itu dibedakan. Seseorang memperoleh kesan-kesan simbolik dari tingkah laku. Kesan-kesan simbolik yang diperoleh seseorang disimpan dalam bentuk kode fungsinya adalah memberikan petunjuk dan bimbingan dalam bartingkah laku di waktu waktu yang akan datang.
Kode-kode tingkah lakuyang diperoleh dari pengamatan itu adalah kode-kode simbolik yang dinamakan system representasional. Sistem ini ada dua macam:visual dan verbal. Termasuk didalam system visual adalah gambar-gambar yang amat jelas dari sytimuli fisik yang sudah tidak ada seperti aktifitas -aktifitas, tenpat-tempat dan benda-benda. Sedangkan sedangkan yang termasuk didalam system verbal ialah peristiwa-peristiwa (seperti prosedur menyusun kalimat), symbol-simbol bahasa, angka-angka, notasi musik dan sebagainya .

2. Komponen Belajar

Dalam situasi alami orang belajar tingkah laku-tingkah laku baru dengan jalan mengamati model model tingkah laku orang lain dan melalui efek-efek perbuatannya sendiri.proses kognitif menyerap informasi dari bermacam-macam tingkah laku yang diamati.informasi ini kemudian disimpan dalam ingatan yang mungkin kemudian akan diujudkan dalam tingkah laku. Sehubungan dengan itukomponen belajar daapat di bedakan menjadi tiga macam, yaitu :model tingkah laku, akibat-akibat tingkah laku dan proses kognitif.
a. Model Tingkah Laku
Peranan utama model tingkah laku adalah memindahkan informasi kepada pengamat. Peranan ini dapat dirinci menjadi tiga macam, yaitu :
1. Sebagai contoh untuk ditiru
2. Mnguatkan atau melemahkan ketahanan pengamat terhadap dilakukannya tingkah laku tertentu.
3. memindahkan pola-pola tingkah laku baru
Sebagai stimulus, model tingkah laku dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu :
1) Model hidup,termasuk disini anggota –anggota keluarga, handai tolan, teman sekerja dan sebagainya dengan siapa seseorang mempunyai hubungan langsung. dalam kehidupan sehari-hari seseorang memperoleh informasi dari hubungansosial ini.
2) Model simbolik, model simbolik adalah gambaran tingkah laku dalam pikiran.dalam kehidupan modern ini media massa merupakan sumber model-model tingkah laku.
3) Deskripsi verbal, deskripsi verbal adalah model yang bukan berupa tingkah laku, tetapi berujud intruksi-intruksi, misalkan serangkaian instruksi untuk merakit peralatan.
b. Akibat-akibat atau konsekuensi-konsekuensi tingkah laku.
Konsekuensi tingkah laku juga merupakan unsur yang penting dalam teori belajar sosial, yang menyangkut tiga macam reinforcement, yaitu :
a) Direc reinforcement, yaitu suatu tipekonsekuensi.peristiwa yang dapt menguatkan tingkah laku baik menyenangkan atau tida menyenangkan.misalkan dengan memberikan hadiah kepada seorang anak yang mendapatkan nilai baik.
b) Vicarious reinforcement, yaitu konsekuensi yang terkait dengan tingkah laku orang lain yamh diamati.
c) Self-reinforcement, yaitu konsekuensi yang berhubungan dengan standar tingkah laku pribdai.

Vicarios Reinforcement
a. Suatu model di beri hadiah agar terujud dalam tingkah laku seseorang.
b. Perilaku orang yang mengamati meningkat frekuensinya.
Sebagai contoh ialah anak yang melihat temannya berkelahi, karena perbuatan berkelahi itu dipuji oleh teman-taman sekelasnya hal itu merupakan reinforcement yang mengarah dilakukannya perbuatan berkelahi di waktu-waktu yang lain.
Selain itu Vicarious reinforcement, juga berfungsi membangkitkan respons-respons yang bersifat emosional. yang nantinya akan membangkitkan rasa puas, bangga, agung dan sebagainya.
Self reinforcement, self reinforcemen ia harus secara sadar diusahakan sendiri oleh seseorang.self reinforcement memiliki tiga unsur :
1. Standar tingkah laku buatan sendiri
2. Kajian-kajian yang memberikan reinforcement dibawah pengendalian sendiri
3. Seseorang sebagai pelaku reinforcement sendiri.
Pada umumnya orang membuat standar tingkah laku bagi dirinya sendiri dan cenderung mrespon s terhadap tingkah lakunya sendiri dengan cara-cara yang menyenangkan kalau tingkah lakunya sesuai atau melampaui standar tersebut.sebaliknya dia akan merespon dengan car mengkritik diri sendiri kalau tingkah lakunya tidak sesuai dengan standar.

c. Proses Kognitif
Dalam teori belajar sosial, proses kognitif memegang peranan penting. Kemampuan seseorang untuk membuat kode, menyimpan pengalaman-pengalaman dalam bentuk lambang yang membayangakn konsekuensi-konsekuensi yang bakal terjadi penting sekali untuk memperoleh dan mengubah tingkah laku.
Pemrosesan kognitif terhadap peristiwa–peristiwa yang mungkin terjadi menjembatani jurang antara tingkah laku dan ahsil tingkah laku. Proses kognitif memiliki empat macam komponen, yaitu : perhatian, retansi, produksi motorik dan motivasi. Perhatia dan retansi mengatur diperolehnya perbuatan-perbuatan yang diamati.berikutnya perbuatan-perbuatan tersebut diatur oleh mekanisme produksi motorik dan motivasi.
1) Perhatian
Menurut Bandura, perhatian itu penting karena tingkahlaku-tinkahlaku yang baru tidak dapat diperoleh kecuali kalau diperhatikan dan di persepsi secara tepat.perhatian ini dipengaruhi beberapa faktor, antara lain karakteristikmodel,karakteristik dan nialai fungsional tingkah laku yang diamati ditentukan oleh reinforcement dari tinkah laku. Tingkah laku yang mempengaruhi perhatian ialah kompleksitas dan relefansi.
Relevansi menunjuk pada arti dan pentingnya tingkah laku yang diamati bagi orang yang mengamatinya. Di antara karakteristik orang yang mengamati ysng mempengaruhi perhatian adalah persepsi ketrampilan mengamati, taraf terbangkitnya emosi,perilaku yang lampau dan kemampuan indrawi. Tarafterbangkitnya emosi dan persepsi mempengaruhi dipilihnya hal-hal yang akan diamat, sedangkan ketrampilan mengamati mempengaruhi ketepatan pemrosesan.
2). Retansi
Retansi berkaitan dengan pengkodean tingkah laku menjadi kode fisual atau kode verbal dan penyimpanannya di dalam ingatan. pentingnya proses ini adalah bahwa orang yangbelajar tidak dapat memperoleh manfaat dari tingkahlaku-tingkah laku yang diamatinya terkecuali kalau tingkah laku itu dikode dan disimpan di dalam ingatan untuk kelak digunakan pada waktu yang lain.
Satu proses retansi yang penting ialahlatiahn atau praktak yang diulang –ulang.proses retansi juga dipengaruhi oleh taraf perkembangan seseorang.
3). Produksi Motorik
Setelah memperoleh kode simbolik,dilakukannya tingkahlaku-tingkahlaku yang diperoleh itu bergantung pada produksi motorik dan motivasi seseorang.produksi motorik ialah memilih dan menyusun rspons-respons pada taraf kognitif, diikuti dengan tindak perbuatan.
4. Motivasi
Ada tiga hal yang berfungsi sebagai motivator yaitu direc reinforcement, vicarios reinforcement, dan self reinforcement.

Aplikasi Teori Belajar Sosial
Aplikasi ini menyangkut tiga hal : karakteristik siswa ,proses kognitif dan pengajaran,dan konteks sosial bagi belajar
1. Karakteristik siswa
Para siswa berbeda-beda dalam kemampuan mereka mengabstraksi, mengodekasikan mformasi, mengingat dan melakukan perbuatan yang dilakukannya. Disamping itu mereka juga berbeda dalam kemampuan menerima model. Kemampuan menerima sesuatu model tertentu berbeda – beda karena :

a) Nilai model tersebuttudak sama baginya
b) Derajat similaritas antara model tersebut dengan setatus dan situasi yang mengamatinya juga berlainan
2. Proses kognitif dan pengajaran
Mengembangkan keterampilan belajar–caranya–belajar dan mengajar kan pemecahan masalah adalah isu-isu yang penting bagi pendidikan
3. Kontek sosial
Mengamati bermacam-macam model dan reinforment yang di berikan oleh teman sebaya dan oleh pihak lain ,kesemuanay berpengaruh penting dalam belajar
Contoh : dalam kerja kelompok ,siswa –siswa yang berprestasi baik hendaknya dipasangkan dengan siswayang prestasinya kurang . Maka.dsalam proses kerja keloimpok antara siswa tersebut akan terjadisaling tanya jawab.

Baca Selengkapnya..

TEORI BELAJAR KOGNITIF

Dalam teori belajar ini berpendapat, bahwa tingkah laku seseorang tidak hanya dikontrol oleh “reward” dan “reinforcement”. Mereka ini adalah para ahli jiwa aliran kognitif. Didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana tingkah laku itu terjadi....


Dalam situasi belajar, seseorang terlibat langsung dalam situasi itu dan memeperoleh “insight”untuk pemecahan masalah. Jadi kaum kognitif berpandangan, bahwa tingkah laku seseorang lebih bergantung kepada insight terhadap hubungan-hubungan yang ada dalam suatu situasi. Keseluruhan adalah lebih daripada bagian-bagian. Mereka memberi tekanan pada organisasi pengamatan atas stimulus di dalam lingkungan serta pada faktor-faktor yang mempengaruhi pengamatan.
Belajar kognitif ciri khasnya terletak dalam belajar memperoleh dan mempergunakan bentuk-bentuk reppresentatif yang mewakili obyek-obyek itu di representasikan atau di hadirkan dalam diri seseorang melalui tanggapan, gagasan atau lambang, yang semuanya merupakan sesuatu yang bersifat mental, misalnya seseorang menceritakan pengalamannya selama mengadakan perjalanan keluar negeri, setelah kembali kenegerinya sendiri. Tampat-tempat yang dikunjuginya selama berada di lain negara tidak dapat diabawa pulang, orangnya sendiri juga tidak hadir di tempat-tempat itu. Pada waktu itu sedang bercerita, tetapi semulanya tanggapan-tanggapan, gagasan dan tanggapan itu di tuangkan dalam kata-kata yang disampaikan kepada orang yang mendengarkan ceritanya.

2.1 Awal Pertumbuhan Teori-Teori Belajar Kognitif
Psikologi kognitif mulai berkembang dengan lahirnya teori belajar “gestalt” peletak dasar psikologi Gestalt adalah Mex Wertheimer ( 1880-1943) yang meneliti tentang pengamatan dan problem solving sumbangan nya ini diikuti oleh Kurt Koffka (1886-1941) yang menguraikan secara terperinci tentang hukum-hukum pengamatan; kemudian Wolfgang penelitian-penelitian mereka menumbuhkan Psikologi Gestalt yang menekankan bahasa pada masalah konfigurasi, struktur dan pemetaan dalam pengalaman. Kaum Gestaltis berpendapat, bahwa pengalaman itu berstruktur stimulus dalam keseluruhan yang terorganisasi, bukan dalam bagian-bagian yang terpisah.
Suatu konsep yang penting dalam psikologi Gestalt adalah tentang “insaightí yaitu pengamatan atau pemahaman mendadak terhadap hubungan-hubungan antar bagianb-bagian di dalam suatu situasi permasalahan hubungan-hubungan antar bagian-bagian di dalam suatu situasi permasalahan . Insight itu sering dihubungkan dengan pernyataan spontan “aha atau “oh, I see now”
Kohler (1927) menemukan tumbuhnya insight pada seekor simpanse dengan menghadapkan simapse pada masalah bagaimana memperoleh pisang yang terletak di luar kurungan atau tergantung di atas kurungan. Dalam eksperimen itu Kohler mengamati, bahwa kadang kala simpase dapat memecahkan masalah secara mendadak, kadangkala gagal meraih pisang, kadangkala duduk merenungkan masalah, dan kemudian secara tiba-tiba menemukan pemecahan masalah.
Wertheirmer (1945) menjadi orang Gestaltis yang mula-mula menghubungkan pekerjaan dengan proses belajar di kelas. Dari pengamatannya itu ia menyesalkan penggunaan menghafal di sekolah dan menghendaki agar murid belajar dengan pengertian, bukan hafalan akademis.
Menurut pandangan Getaltis, semua kagitan belajar ( baik pada simpase maupun pada manusia ) menggunakan insight atau pemahaman terhadap hubungan anatara bagian dan keseluruhan. Menurut psikologi Gestalt, tingkah laku kejelasan belajar adalah lebih meningkatkan belajar seseorang daripada dengan hukuman dan ganjaran.

2.2. Teori Belajar “ Cognitive- Field” dari Lewin
Bertolak dari penemuan Gestalt Psychology, Kurt Lewin ( 1892-1947) mengembangkan suatu teori belajar “ Cognitive- Field” dengan menaruh perhatian kepada kepribadian dan psikologi sosial. Lewin memandang masing-masing individu sebagai berada di dalam suatu medan kekuatan, yang bersifat psikologis. Medan kekuatan psikologis di mana individu beraksi disebut “ life space” mencakup perwujudan lingkungan di mana individu beraksi, misalnya Orang-orang ia jumpai, objek materil yang ia hadapi.
Lwin berpendapat, bahwa tingkah laku merupakan hasil iteraksi antar kekuatan-kekuatan, baik yang dari dalam diri individu seperti tujuan, kebutuhan, tekanan kejiwaan; maupun dari luar diri individu seperti tantangan dan permasalahan. Menurut Lewin, belajar berlangsung sebagai akibat dari perubahan dalam struktur kognitif. Perubahan struktur kognitif ini adalah hasil dari dua macam kekuatan satu dari struktur medan kognisi itu sendiri, yang lainnya dari kebutuhan dan motivasi internal individu. Lewin memberikan paranan yang lebih penting pada motivasi dari pada reward.

2.3 Teori Belajar “ Cognitive Development ”dari Piaget
Dalam teorinya, Piaget memandang bahwa proses berpikir sebagai aktivitas gradual dari fungsi intelektual dari kongkret menuju abstrak.
Piaget adalah seorang psikolog “development” karena penelitiannya mengenai tahap-tahap perkembangan pribadi serta perubahan umur yang mempengaruhi kemampuan belajar individu. Dia adalah salah seorang psikolog yang suatu teori komprehensif tentang perkembangan intelegensi atau proses berpikir. Menurut Piaget, pertumbuhan kapasitas mental memberikan kemampuan-kemampuan mental baru yang sebelumnya tidak ada. Pertumbuhan intelektual adalah tidak kualitiatif, melainkan kualitatif. Apabila ahli biologi menekankan penjelasan tentang pertumbuhan struktur yang memungkinkan individu mengalami penyesuaian diri dengan lingkungan, maka Piaget tekanan penyelidikannya lain. Piaget menyelidiki masalah yang sama dari segi penyesuaian atau adaptasi manusia serta meneliti perkembangan intelektual atau kognisi berdasarkan dalil bahwa struktur intelektual terbentuk dalam individu akibat interaksinya dengan lingkungan.
Piaget memakai istilah “ scheme” secara “interchangably” dengan istilah struktur “ scheme”adalah pola tingkah laku yang dapat diulang “ Scheme” berhubungan dengan :
- Refleks-refleks pembawaan; misalnya bernafas, makan, minum.
- Scheme mental misalnya “sheme of classification”, “ scheme of operation” (pola tingkah laku yang masih sukar diamati seperti sikap), dan “ scheme of operation” ( pola tingkah laku yang dapat diamati)
Menurut Piaget, intelegensi itu sendiri terdiri dari tiga aspek yaitu:
1) Struktur, disebut juga “ scheme” seperti yang dikemukakan diatas
2) Isi disebut juga “content” yaitu pola tingkah laku spesifik tatkala individu menghadapi sesuatu masalah.
3) Fungsi, disebut juga ‘ function” yang berhubungan dengan cara seseorang mencapai kemajuan intelktual.
Fungsi itu sendiri terdiri dari dua macam fungsi “ invariant” yaitu organisasi dan adaptasi.
Organisasi: berupa kecakapan seseorang atau organisasi dalam menyusun proses-proses fesis dan psikis dalam bentuk sistem-sistem yang koheran.
Adaptasi : yaitu adaptasi individu terhadap lingkungan. Adaptasi ini terdiri dari dua macam proses komplermenter, yaitu asimilasi dan akomodasi.
Asimillasi : Proses penggunaan struktur atau kemampuan individu untuk menghadapi amasalah dalam lingkungannya. Sedangkan akomodasi, proses perubahan respon individu terhadap stimulasi lingkungan. Pengaplikasian di dalam belajar : perkembangan kognitif bergantung pada akomodasi. Kepada siswa harus diberikan suatu area yang beluim diketahui agar ia dapat belajar, karena ia tidak dapat menggantungkan diri pada asimilasi. Dengan adanya area baru ini siswa akan mengadakan uasaha untuk dapat mengakomodasikan. Situasi atau area itulah yang akan mempermudah pertumbuhan kognitif.
Jadi secara singkat dapat dikatakan bahwa pertumbuhan intelektual anak mengandung tiga aspek yaitu: strctur, content, dan function. Anak yang sedang mengalami perkembangan, struktur dan konten intelektuanya berubah atau berkembang. Fungsi dan adaptasi akan tersusun sehingga melahirkan suatu rangkaian perkembangan; masing-masing mempunyai struktur psikologis khusus yang menentukan kecakapan pikiran anak. Maka Piaget mengartikan intelegensi adalah sejumlah struktur psikologis yang ada pada tingkat perkembangan khusus.
Tahap-tahap perkembangan Piaget:
1) kematangan
2) Pengalaman fisik atau lingkungan
3) Tranmisi sosia;
4) Eguilibrium atau self regulation

Selanjutnya ia membagi tingkat-tingkat perkembangan yaitu :
1) Tingkat sensori motoris : 0,0 – 2,0
2) Tingkat preoperasobal : 2,0 – 7,0
3) Tingkat operasi kongkret: 7,0 – 11,0
4) Tingkat operasi formal : 11,0
Penjelasan :
1. Tingkat sesori motoris
Bayi lahir refleks bawaan, skema dimodifikasi dan digabungkan untuk membentuk tingkah laku yang lebih kompleks. Pada masa kanak-kanak ini, anak tidak mempunyai konsepsi tentang objek yang tetap. Ia hanya dapat mengetahui hal-hal yang ditangkap dengan inderanya.
2. Tingkat preoperasional
Anak mulai timbul pertumbuhan kognitifnya, tetapi masih terbatas pada hal-hal yang dapat dijumpai (dilihat) di dalam lingkungannya saja. Baru pada menjelang akhir tahun ke-2 anak telah memulai mengenal simbolk atau nama. Dalam hubungan ini Philips (1969) membagi atas (1) concretemss, (2) irreversibility (3) centering ( ini tanpak adanya egocerntrisme) ( 4) states vs Transformatiion dan (5) tranductive reasoning.
3. Tingkat operasi kongkret
Anak telah dapat mengetahui simbol-simbol matematis tetapi belum dapat menghadapi hal-hal yang abstrak. Kecakapan kognitif anak ( 1) combinativity classification, (2) reversibility ( 3) associativity (4) Identity ( 5) seriallizing. Anak mulai kurang egocentrisme-nya dan lebih socientris ( anak mulai membentuk peer group)
4. Tingkat operasi formal
Anak telah mempunyai pemikiran yang abstrak pada bentuk-bentuk lebih kompleks. Flavell (1963) memberikan ciri-ciri sebagai berikut:
a) Pada pemikiran abnak remaja adalah hypothetico deductive. Ia telah dapat membuat hipotesis-hipotesis dari suatu problem dan membuat keputusan terhadap problem itu secara tepat, tetapi anak kecil belum dapat menyimpulkan apakah hipotesisnya ditolak atau diterima.
b) Periode propositional thinking
Remaja telah dapat memberikan statement atau proporsi berdasarkan pada data yang kongkret. Tetapi kadang-kadang ia berhadapan dengan proposi yang bertentangan dengan fakta.
c) Periode combinatorial thinking
Bila remaja itu mempertimbangkan tentang pemecahan problem ia telah dapat memisahkan faktor-faktor yang menyangkut dirinya dan mengombinasikan faktor-faktor itu.

2.4 Jerome Bruner dengan “Discovery Learning”nya
Yang menjadikan dasar ide J. Brune ialah pendapat dari Piaget yang menyatakan bahwa anak harus berperan secara aktif di dalam kelas. Untuk itu, Bruner memakai cara dengan apa yang disebutnya “ discovery learning” yaitu dimana murid mengorganisasi bayhan yang dipelajari dengan suatu bentuk akhir. Prosedur ini berbeda dengan reception learning atau expository taching dimana guru menerangkan semua informal dan murid harus mempelajari semua bahan atau informasi itu.
Banyak pendapat yang mendukung discovery learning itu diantaranya : J. Dewey (1933) dengan “complete art of reflective activity “atau terkenal dengan problem solving. Ide Bruner itu ditulis dalam bukunya Process of education Di dalam buku itu ia melaporkan hasil dari suatu konferensi diantara para ahli science, ahli sekolah atau pengajaran dan pendidik tentang pengajaran science . Dalam hal ini ia mengemukakan pendapatnya, bahwa mata pelajaran dapat diajarkan secara efektif dalam bentuk intelektual yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak. Pada tingkat permulaan pengajaran hendaknya dapat diberikan melalui cara-cara yang bermakna, dan makin meningkat ke arah yang abstrak.

2.5 Fungsi kognitif
Sebagaimana dijelaskan di lain tempat,melalui fungsi kognitif manusia menghadapi obyek-obyek dalam bentuk-bentuk representatif yang menghadirkan obyek-obyek itu dalam kesadaran. Hal ini paling jelas nampak dalam aktivitas mental berfikir.
1) Taraf intelegensi-daya kreativitas Istilah “ intelegensi” dapat diartikan dengan dua cara yaitu:
a. Arti Luas : kemampuan untuk mencapai prestasi yang di dalamnya berfikir memegang peranan. Prestasi itu dapat diberikan dalam berbagai bidang kehidupan, seperti pergaulan sosial, teknis, perdagangan, pengaturan rumah tangga dan belajar di sekolah.
b. Arti Sempit : kemampuan untuk mencapai prestasi di sekolah yang di dalamnya berpikir memegang peranan pokok intelegensi dalam arti ini, kerap disebut “ kemampuan intelektual “ atau “ kemampuan akademik”
Di dalam intelegensi terdapat beberapa komponen, seperti intelegensi sosial, intelegensi praktis, ineregensi teoristis. Komponen-komponen itu tidak berperan sama besar dalam memberikan prestasi di berbagai kehidupan, misdalnya dalam pergaulan sosial komponen intelegensi soaial berperan lebih banyak. Komponen-komponen itu juga tidak sama-sama kuat dalam intelegensi yang dimiliki seseorang, pada orang A komponen intelegensi teoristis lebih kuat, pada orang B komponen intelegensi praktis lebih kuat. Maka mungkin saja bahwa siswa A berprestasi lebih tinggi dalam semua bidang studi yang menuntut banyak pemikiran teoritis, sedangkan siswa B berprestasi lebih tinggi dalam banyak bidang studi yang bersifat praktis (perbedaan inter individual). Bahkan siswa C mungkin lebih tinggi dalam banyak bidang studi yang pertama dan berprestasi lebih rendah dalam semua bidang studi yang kedua (perbedaan intra-individual).
Mengenai hakikat intelegensi, belum ada kesesuaian pendapat di antara para ahli. Variasi dalam pendapat nampak bila pandangan ahli satu dibandingkan dengan pendapat ahli yang lain, khususnya pendapat dari :
a. Terman : intelegensi adalah kemampuan untuk berpikir abstrak
b. Thorndike : intelegensi adalah kemampuan untuk menghubungkan reaksi tertentu dengan perangsang tertentu pula, misalnmya orang mengatakan “meja” bila melihat sebuah benda yang beraksi empat dan mempunyai permukaan yang datar. Maka makin banyak hubungan (koneksi) semacam itu yang dimiliki seseorang, makin intelegensi orang itu.
c. Spearman : intelegensi merupakan hasil perpaduan antara faktor umum dan sejumlah faktor khusus. Faktor umum ( faktor g) berperan dalam semua bentuk berprestasi, sedangkan faktror-faktor khusus ( S1, S2, S3 dan seterusnya) berperan dalam bentuk-bentuk berprestasi tertentu, seperti berkemampuan bahasa, berkemampuan matematis. Perpaduan itu adalah unik untuk setiap orang, sehingga nampak perbedaan itu adalah unik untuk setiap orang, sehingga nampak perbedaan antara orang yang satu dengan yang lain.
d. Thurstone : intelegensi merupakan kombinasi dari beberapa kemampuan dasar ( primary abilities). Kemampuan-kemampuan dasar itu disebut “ faktor-faktor utama” dan berjumlah tujuh, yaitu faktor bilangan, ingatan, penggunaan bahasa, kelancaran kata-kata, pemecahan problema, kecepatan.
e. Guilford : intelegensi merupakan perpaduan dari banyak faktor khusus. Dibedakan produk yang diperoleh sebagai hasil dari operasi tertentu terhadap materi tertentu. Pada dimensi yang pertama terdapat 5 faktor, pada dimensi yang kedua terdapat 6 faktor dan pada dimensi yang ketiga terdapat 4 fakator. Maka diperoleh jumlah faktor sebanyak 120, yaitu 5 x 6 x 4. rteori Guilford, tidak dapat diuraikan di sini, karena bersifat sangat kompleks. Pembaca yang berminat dapat mempelajari literatur yang membahas teori ini, misalnya J.P Guilford, The Nature og Human Integence, 1967.
f. Wechsler : intelegency adalah kemampuan untuk bertindak dengan mencapai suatu tujuan, untuk berfikir secara rasional dan untuk berhubungan dengan lingkungan secara efektif. Berdasarkan pengertian ini, disusun beberapa tes intelegensi yang sampai sekarang masih digunakan, misalnya “ Wechenler Intelegence Scale for Children, “ “Wechsler Adult Intelegence Scale,”
g. Binet : Intelegency adalah kemampuan untuk menetapkan dan mempertahankan suatu tujuan, untuk mengadakan penyesuaian dalam rangka mencapai tujuan dan untuk bersikap kritis terhadap diri sendiri. Berdasarkan pengertian ini disusun tres intelegensi yang dikenal dengan nama “test stanford-Binet “ dan sampai sekarang masih digunakan.
h. Gardner : mengembangkan bahwa terdapat beberapa macam intelegensi yang dapat dibedakan yang satu dari yang lain. Dia mencatat bahwa kerusakan pada bagian otak tertentu mengakibatkan gangguan terhadap intelegensi yang satu, tetapi tidak terhadap intelegensi yang lain. Disamping itu dikemukakannya bahwa orang kerap mencolok dalam satu intelegensi, tetapi tidak menunjukkan kemampuan tinggi dalam intelegensi yang lain. Jumlah intelegensi yang disebutkan adalah tujuh yaitu kemampuan dalam penggunaan bahasa seperti disaksikan pada penyair dan jurnalistik;kemampuan dalam berfikir logis dan matematis seperti yang terdapat pada seorang ahli riset ilmiah dan seorang ahli matematika.
i. Sternberg : Teori triarkhis mengenai intelegensi artinya teori yang mengandung tiga bagian. Bagian pertama menyangkut berbagai proses mental yang menjadi komponen pokok dalam operasi mental terhadap representasi dari obyek0obyek dalam alam pkiran. Bagian kedua menyangkut kemampuan seorang untuk menghadapi tantangan baru secara efektif, dan mencapai taraf kemahiran dalam berfikir sehingga mudah berhasil dalam mengatasi segala permasalahan yang muncul. Bagian ketiga dalam teori Sternbeg menyoroti kemampuan untuk menempatkan diri sendiri dalam lingkungan yang memungkinkan akan berhasil, untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan itu dan untuk mengadakan perubahan terhadap lingkungan itu bila perlu. Kemampuan ini nampak, misalnya dalam ketetapan plihan karier, dalam kemudahan menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan kerja dan dalam kelincahan pergaulan sosial.
Meskipun semua pandangan yang dikemukanan di atas sangat bervariasi kebanyakan psikologi dewasa ini cenderung sependapat bahwa tiga komponen inti dalam intelegensi adalah kemampuan untuk menangani representasi mental dalam alam pikiran seperti konsep dan kaidah (berfikir abstrak), kemampuan untuk belajar. Dari pihak lain adanya perbedaan dalam pandangan mengenai hakikat intelegensi, harus membuat tenaga kependidikan sangat hati-hati dalam membentuk pendapat di bidang ini. Bil seorang siwa dalam testing intelegensi di sekolah mendapat hasil yang tinggi ( IQ-nya tinggi), tidak harus berarti bahwa siswa yang bersangkutan sekaligus memiliki daya kreativitas bagi guru yang berfikir terlalu kaku dan tidak berani keluar dari jalur yang lazimnya yang tinbgi pula. Maklumlah , dalam testing intelegensi di sekolah, corak berfikir konvergen yang lebih berperanan.
Seorang siswa yang terbukti mempunyai IQ yang tinggi dan sekaligus mampu berpikir kreatif sekali, biasanya akan merepotkan guru, karena cendrung untuk berfikir kritis, menemukan pemecahan yang baru dan mengajukan pertanyaan yang sukar dijawab; dia merepotkan diikuti. Torrance telah mengembangkan dua macam tes yang pertama subyek dituntut untuk mengerjakan berbagai soal dengan menggunakan bahasa, misalnya memikirkan dan menyebutkan sebanyak subyek disuruh untuk mengerjakan beberapa tugas tanpa menggunakan bahasa.
Dalam macam tes yang kedua subyek disuruh untuk mengerjakan beberapa tugas tanpa menggunakan bahasa misalnya membuat sebuah gambar yang masing- masing memuat dua garis vertikal yang paralel. Semua soal itu diberi skor dalam tiga komponen, yaitu orisinalitas (sangat sedikit orang menghasilkan pikiran seperti itu), variasi (berapa jumlah jawaban yang berbeda), dan fleksibilitas (berapa jumlah golongan jawaban yang berbeda).
a. Bakat Khusus merupakan kemampuan yang menonjol di suatu bidang tertentu misalnya di bidang studi matematika atau bahasa asing. Orang sering berpendapat bahwa seua bakat khusus merupakan sesuatu yang langsung diturunkan oleh orang tua, misalnya bakat khusus di bidang matematika diperoleh dari orang tua melalui proses generasi biologis. Namun yang terakhir ini tidak akan nampak kalau tidak dikembangkan melalui pendidikan keluarga dan sekolah. Adanya bakat khusus di suatu bidang studi akademik, biasanya baru nampak jelas pada awal masa remaja, karena baru pada masa itu anak telah memperoleh cukup banyak pengalaman, sehingga terbentuk suatu bakat khusus.
b. Organisasi kognitif menunjuk pada cara materi yang sudah diupelajari, disimpan dalam ingatan; apakah tersimpan secara sistematis atau tidak. Hal ini bergantung pada cara materi dipelajari dan diolah;makin mendalam dn makin sistematis pengolahan materi pelajaran, makin baiklah taraf organisasi dalam ingatan itu sendiri.
c. Kemampuan berbahasa mencakup kemampuan untuk menangkap inti suatu bacaan dan merumuskan pengetahuan dan pemahaman yang diperoleh itu dalam bahasa yang baik, sekurang-kurangnya bahasa tertulis, Mengibgat kaitan yang ada antara berpikir yang tepat dan berbahasa yang benar, maka tidak mengherankan bahwa siswa yang kurang mampu berbahasa, tertinggal di belakang dibanding dengan siswa yang berbahasa baik.
d. Daya fantasi berupa aktivitas kognitif yang mengandung pikiran-pikiran dan tanggapan-tanggapan, yang bersama-sama menciptakan sesuatu dalam alam kesadaran. Dalam alam fantasi orang tidak hanya menghadirkan kembali hal-hal yang perbnah diamati tyetapi menciptakan sesuatu yang baru. Misalnya, tanggapan “semut sebesar gajah” bukanlah sesuatu yang pernah diamati, meskipun materi untuk tanggapan itu, yaitu semut dan gajah. Berasal dari pengalaman sensorik yang kongkret.
e. Daya fantasi mempunyai kegunaan kreatif, antisipatif, rekratif dan sosial. Fantasi dapat berguna dalam menciptakan sesuatu yang baru (Kreasi) dalam membayangkan kejadian mendatang dan mempersiapkan diri menghadapi kejadian itu ( antisipasi) dalam melepaskan diri dari ketegangan hidup sehari-hari (rekreasi) dan dalam menempatkan diri dalam situasi hiosup orang lain (sosial)
f. Gaya belajar merupakan cara belajar yang khas bagi siswa. Gaya belajar mengandung beberapa koponen, antara lain gaya kognitif dan tipe belajar. Gaya kognitif adalah cara kognitif digunakan seseorang dalam mengamati dan beraktivitas mental di bidang kognitif. Cara khas ini bersifat sangat individual yang kerapkali tidak disadari dan sekali terbentuk, cendrung bertahan terus. Dewasa ini dibedakan empat gaya kognitif yaitu :
1. Kecendrungan untuk mengamati dan berpikir secara analisis. Sesuatu yang dipelajari ditinjau dari beberapa sidut dan seoalah-olah dibagi atas beberapa bagian yang masing-masing diperdalam, untuk kemudian digabung lagi. Gaya seperti ini dilawankan dengan kecendrungan untuk mempelajari sesuiatu secara global tanpa mengadakan peotongan atau pembagian.
2. Perbedaan antara kedua kecendrugan ini sangat mirip dengan apa yang dikenal sebagai ketergantungan pada medan (field dependency) lawan ketidak-ketergantungan pada medan (field-independent). Dalam hal yang pertama orang cendrung memandang suatu pola sebagai keseluruhan dan kerap lebih berorientasi pada sesama manusia serta hubungan sosial. Oleh karena itu guru yang sungguh-sungguh mengenal kepribadian masing-masing siswa, harus mendampinginya dalam memanfaatkan kelebihannya serta mengatasi kelemahannya..
3. Ketahanan terhadap kecendrungan untuk meninggalkan arah atau cara yang telah diplih dalam mempelajari sesuatu. Sekali dipilih suatu cara yang dinilai tepat apakah cara itu mudah ditinggalkan untuk diganti dengan cara lain yang nampaknya lebih mudah, tetapi sebanarnya kurang tepat.
4. Luas sempitnya pembentukan pengertian (konseptualisasi) apakah seseorang cenderung untuk membentuk konsep-konsep yang luas atau yang lebih terbatas. Yang pertama mencakup banyak hal sekaligus yang kedua mencakup beberapa hal saja.
5. Keendrungan untuk sangat memperhatikan perbedaan antara obyek-obyek atau kurang meperhatikannya. Hal initerutama menyangkut pengamatan yang dalam belajar dapat memegang peranan penting.
6. Kecendrungan ini mungkin dipengaruhi oleh gaya kognitif yang mendfasari yaitu bereaksi dengan sangat cepat, namun kurang tepat (impulsif) atau bereaksi dengan lebih lamban tetapi tepat( refleksif). Dengan meningkatknya umur anak pada umumnya menjadi lebih refleksif, namun anak yang sejak umur muda cendrung bera\eaksi dengan cepat tidak akan berbalik menjadi orang yang angat bereakasi refleksif siswa yang cendrung untuk terlalu inplusif dalam berpersepsi dan mengerjakan tugas-tugas belajar, harus dibantu untuk bekerja dengan lebih lambat, mialnya dengan menganjurkan supaya membaca soal dalam tes secara teliti dan menjawabnya secara terencana.
7. Tipe belajar menunjuk pada kecendrungan seseorang untuk mempelajari seauatu dengan cara yang lebih visual atau lebih auditif. Siswa yang tergolong tipe visual cendrung lebih mudah belajar bila materi pelajaran dapat dilihat atau dituangkan dalam bentuk gambar, bagan, duagram dan lain sebagainya. Namun tidak semua siswa akan jelas trgolong kedalam salah satu tipe; mungkin saja seorang siswa akan menyesuaikan tipe belajarnya dengan materi pelajaran yang dihadapi. Adapula siswa yang tidak bertipe belajar apa pun dan mengalami kesulitan, baik dalam menglah materi pelajaran secara visual maupun secara auditif.
g. Teknik0teknik studi atau cara-cara belajar secara efisien dan efektif jelas membantu siswa dalam belajar lebih-lebih bila belajar diu rumah. Siswa yang telah terbiasa mengikuiti cara belajar yang tepat akan meningkatkan kemampuan belajar. Sebagaimana dikatakan oleh Van Parreren, siswa yang tidak berkemampuan intelektual tinggi pun dapat belajar menggunakan cara belajar yang tepat .
Pertanyaan yang perlu dijawab ialah ampai berapa jauh butrir (1) sampai (7) dapat berubah lebih-lebih hal yang menguntungkan bagi siswa selama proses belajar mengajar menjadi lebih baik misalnya teknik-teknik studi dan kemampuan berbahasa, daya fantasi dan teknik studi, dapat dipengaruhi secara positif atau ditingkatkan oleh guru dan siswa sendiri. Selama proses-proses belajar-mengajar dalam kurun waktu cukup lama, guru mendapat kesempatan untuk membantu siswa untuk menibgkatkan semua itu. Sehingga lama kelamaan keadaan siswa, dibidang kognitif, menjadi lebih baik. Dengan demikian siswa memperoleh bekal yang lebih menguntungkan bagi belajar di masa yang akan datang. Siswa sendiri dapat melatih diri di luar proses belajar mengajar di sekolah, misalnya pada waktu mengerjakan pekerjaan rumah, dengan dibantu oleh keluarga. Namun, usaha-usaha itu harus dimulai seawal mungkin, sejak siswa masuk sekolah dasar.
Usaha peningkatan yang baru dimulai pada waktu siswa sampai di Sekolah Lanjutan Tingkat Atas, memberikan harapan kecil akan menghasilkan perbaikan yang berarti. Mengenai kemungkinan mempengaruhi gaya belajar, para ahli berbeda pendapat, ada yang mengatakan, bahwa gaya belajar sudah terbentuk pada waktu anak akan masuk Sekolah Dasar dan ada yang masih menerima kemungkinan itu selama tahun-tahun sesudah masuk Sekolah Dasar. Mengenai kemungkinan meningkatkan taraf intelegensi , para ahli cenderung berpadangan agak optimis, kalau dilakukan sebelum anak masuk Sekolah Dasar. Kemunginan itu dianggap menjadi lebih kecil, bila siswa berada pada tahap pendidikan Sekolah Dasar dan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama. Setelah siswa masuk Sekolah Lanjutan Tingkat Atas, peningkatan yang berarti kiranya tidak dapat diharapkan, lebih-lebih sebelumnya hal itu sama sekali tidak diusahakan. Bahkan ada pengarang yang berpendapat bahwa taraf intelegensi, sejauh diukur dalam tes intelegensi umum (General Intelligence Test), tidak dapat diharapkan akan meningkat secara berarti sesudah umur 10 tahun, misalnya Benyamin Bloom dalam bukunya Human Charetersitic and School Learning

Baca Selengkapnya..

TEORI BELAJAR HUMANISTIK

Menurut Teori humanistik, tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia. \proses belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambatlaun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya.

Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya.
Tujuan utama para pendidik adalah membantu si siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka. Para ahli humanistik melihat adanya dua bagian pada proses belajar, ialah :
1. Proses pemerolehan informasi baru,
2. Personalia informasi ini pada individu.
Tokoh penting dalam teori belajar humanistik secara teoritik antara lain adalah: Arthur W. Combs, Abraham Maslow dan Carl Rogers.
1. Arthur Combs (1912-1999)
Bersama dengan Donald Snygg (1904-1967) mereka mencurahkan banyak perhatian pada dunia pendidikan. Meaning (makna atau arti) adalah konsep dasar yang sering digunakan. Belajar terjadi bila mempunyai arti bagi individu. Guru tidak bisa memaksakan materi yang tidak disukai atau tidak relevan dengan kehidupan mereka. Anak tidak bisa matematika atau sejarah bukan karena bodoh tetapi karena mereka enggan dan terpaksa dan merasa sebenarnya tidak ada alasan penting mereka harus mempelajarinya. Perilaku buruk itu sebenarnya tak lain hanyalah dati ketidakmampuan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak akan memberikan kepuasan baginya.
Untuk itu guru harus memahami perlaku siswa dengan mencoba memahami dunia persepsi siswa tersebut sehingga apabila ingin merubah perilakunya, guru harus berusaha merubah keyakinan atau pandangan siswa yang ada. Perilaku internal membedakan seseorang dari yang lain. Combs berpendapat bahwa banyak guru membuat kesalahan dengan berasumsi bahwa siswa mau belajar apabila materi pelajarannya disusun dan disajikan sebagaimana mestinya. Padahal arti tidaklah menyatu pada materi pelajaran itu. Sehingga yang penting ialah bagaimana membawa si siswa untuk memperoleh arti bagi pribadinya dari materi pelajaran tersebut dan menghubungkannya dengan kehidupannya.
Combs memberikan lukisan persepsi dir dan dunia seseorang seperti dua lingkaran (besar dan kecil) yang bertitik pusat pada satu. Lingkaran kecil (1) adalah gambaran dari persepsi diri dan lingkungan besar (2) adalah persepsi dunia. Makin jauh peristiwa-peristiwa itu dari persepsi diri makin berkurang pengaruhnya terhadap perilakunya. Jadi, hal-hal yang mempunyai sedikit hubungan dengan diri, makin mudah hal itu terlupakan.
2. Maslow
Teori Maslow didasarkan pada asumsi bahwa di dalam diri individu ada dua hal :
(1) suatu usaha yang positif untuk berkembang
(2) kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu.
Maslow mengemukakan bahwa individu berperilaku dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat hirarkis. Pada diri masing-masing orang mempunyai berbagai perasaan takut seperti rasa takut untuk berusaha atau berkembang, takut untuk mengambil kesempatan, takut membahayakan apa yang sudah ia miliki dan sebagainya, tetapi di sisi lain seseorang juga memiliki dorongan untuk lebih maju ke arah keutuhan, keunikan diri, ke arah berfungsinya semua kemampuan, ke arah kepercayaan diri menghadapi dunia luar dan pada saat itu juga ia dapat menerima diri sendiri(self).
Maslow membagi kebutuhan-kebutuhan (needs) manusia menjadi tujuh hirarki. Bila seseorang telah dapat memenuhi kebutuhan pertama, seperti kebutuhan fisiologis, barulah ia dapat menginginkan kebutuhan yang terletak di atasnya, ialah kebutuhan mendapatkan ras aman dan seterusnya. Hierarki kebutuhan manusia menurut Maslow ini mempunyai implikasi yang penting yang harus diperharikan oleh guru pada waktu ia mengajar anak-anak. Ia mengatakan bahwa perhatian dan motivasi belajar ini mungkin berkembang kalau kebutuhan dasar si siswa belum terpenuhi.
3. Carl Rogers
Carl Rogers lahir 8 Januari 1902 di Oak Park, Illinois Chicago, sebagai anak keempat dari enam bersaudara. Semula Rogers menekuni bidang agama tetapi akhirnya pindah ke bidang psikologi. Ia mempelajari psikologi klinis di Universitas Columbia dan mendapat gelar Ph.D pada tahun 1931, sebelumnya ia telah merintis kerja klinis di Rochester Society untuk mencegah kekerasan pada anak.
Gelar profesor diterima di Ohio State tahun 1960. Tahun 1942, ia menulis buku pertamanya, Counseling and Psychotherapy dan secara bertahap mengembangkan konsep Client-Centerd Therapy. Rogers membedakan dua tipe belajar, yaitu:
1. Kognitif (kebermaknaan)
2. experiential ( pengalaman atau signifikansi)
Guru menghubungan pengetahuan akademik ke dalam pengetahuan terpakai seperti memperlajari mesin dengan tujuan untuk memperbaikai mobil. Experiential Learning menunjuk pada pemenuhan kebutuhan dan keinginan siswa. Kualitas belajar experiential learning mencakup : keterlibatan siswa secara personal, berinisiatif, evaluasi oleh siswa sendiri, dan adanya efek yang membekas pada siswa.
Menurut Rogers yang terpenting dalam proses pembelajaran adalah pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran, yaitu:
1. Menjadi manusia berarti memiliki kekuatan yang wajar untuk belajar. Siswa tidak harus belajar tentang hal-hal yang tidak ada artinya.
2. Siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya. Pengorganisasian bahan pelajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa
3. Pengorganisasian bahan pengajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa.
4. Belajar yang bermakna dalam masyarakat modern berarti belajar tentang proses.

Dari bukunya Freedom To Learn, ia menunjukkan sejumlah prinsip-prinsip dasar humanistik yang penting diantaranya ialah :
a. Manusia itu mempunyai kemampuan belajar secara alami.
b. Belajar yang signifikan terjadi apabila materi pelajaran dirasakan murid mempunyai relevansi dengan maksud-maksud sendiri.
c. Belajar yang menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya sendiri diangap mengancam dan cenderung untuk ditolaknya.
d. Tugas-tugas belajar yang mengancam diri ialah lebih mudah dirasakan dan diasimilasikan apabila ancaman-ancaman dari luar itu semakin kecil.
e. Apabila ancaman terhadap diri siswa rendah, pengalaman dapat diperoleh dengan berbagai cara yang berbeda-beda dan terjadilah proses belajar.
f. Belajar yang bermakna diperoleh siswa dengan melakukannya.
g. Belajar diperlancar bilamana siswa dilibatkan dalam proses belajar dan ikut bertanggungjawab terhadap proses belajar itu.
h. Belajar inisiatif sendiri yang melibatkan pribadi siswa seutuhnya, baik perasaan maupun intelek, merupakan cara yang dapat memberikan hasil yang mendalam dan lestari.
i. Kepercayaan terhadap diri sendiri, kemerdekaan, kreativitas, lebih mudah dicapai terutama jika siswa dibiasakan untuk mawas diri dan mengritik dirinya sendiri dan penilaian dari orang lain merupakan cara kedua yang penting.
j. Belajar yang paling berguna secara sosial di dalam dunia modern ini adalah belajar mengenai proses belajar, suatu keterbukaan yang terus menerus terhadap pengalaman dan penyatuannya ke dalam diri sendiri mengenai proses perubahan itu.
Salah satu model pendidikan terbuka mencakuo konsep mengajar guru yang fasilitatif yang dikembangkan Rogers diteliti oleh Aspy dan Roebuck pada tahun 1975 mengenai kemampuan para guru untuk menciptakan kondidi yang mendukung yaitu empati, penghargaan dan umpan balik positif. Ciri-ciri guru yang fasilitatif adalah:
1. Merespon perasaan siswa
2. Menggunakan ide-ide siswa untuk melaksanakan interaksi yang sudah dirancang
3. Berdialog dan berdiskusi dengan siswa
4. Menghargai siswa
5. Kesesuaian antara perilaku dan perbuatan
6. Menyesuaikan isi kerangka berpikir siswa (penjelasan untuk mementapkan kebutuhan segera dari siswa)
7. Tersenyum pada siswa
Dari penelitian itu diketahui guru yang fasilitatif mengurangi angka bolos siswa, meningkatkan angka konsep diri siswa, meningkatkan upaya untuk meraih prestasi akademik termasuk pelajaran bahasa dan matematika yang kurang disukai, mengurangi tingkat problem yang berkaitan dengan disiplin dan mengurangi perusakan pada peralatan sekolah, serta siswa menjadi lebih spontan dan menggunakan tingkat berpikir yang lebih tinggi.
Implikasi Teori Belajar Humanistik
Aplikasi teori humanistik lebih menunjuk pada ruh atau spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para siswa sedangkan guru memberikan motivasi, kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan siswa. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran.
Siswa berperan sebagai pelaku utama (student center) yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri. Diharapkan siswa memahami potensi diri , mengembangkan potensi dirinya secara positif dan meminimalkan potensi diri yang bersifat negatif. Tujuan pembelajaran lebih kepada proses belajarnya daripada hasil belajar. Adapun proses yang umumnya dilalui adalah :
1. Merumuskan tujuan belajar yang jelas
2. Mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak belajar yang bersifat jelas , jujur dan positif.
3. Mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupan siswa untuk belajar atas inisiatif sendiri
4. Mendorong siswa untuk peka berpikir kritis, memaknai proses pembelajaran secara mandiri
5. Siswa di dorong untuk bebas mengemukakan pendapat, memilih pilihannya sendiri, melakukkan apa yang diinginkan dan menanggung resiko dariperilaku yang ditunjukkan.
6. Guru menerima siswa apa adanya, berusaha memahami jalan pikiran siswa, tidak menilai secara normatif tetapi mendorong siswa untuk bertanggungjawab atas segala resiko perbuatan atau proses belajarnya.
7. Memberikan kesempatan murid untuk maju sesuai dengan kecepatannya
8. Evaluasi diberikan secara individual berdasarkan perolehan prestasi siswa
Pembelajaran berdasarkan teori humanistik ini cocok untuk diterpkan pada materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial. Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjaadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri. Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggungjawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan , norma , disiplin atau etika yang berlaku.
Psikologi humanistik memberi perhatian atas guru sebagai fasilitator yang berikut ini adalah berbagai cara untuk memberi kemudahan belajar dan berbagai kualitas sifasilitator. Ini merupakan ikhtisar yang sangat singkat dari beberapa guidenes(petunjuk):
1. Fasilitator sebaiknya memberi perhatian kepada penciptaan suasana awal, situasi kelompok, atau pengalaman kelas
2. Fasilitator membantu untuk memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan perorangan di dalam kelas dan juga tujuan-tujuan kelompok yang bersifat umum.
3. Dia mempercayai adanya keinginan dari masing-masing siswa untuk melaksanakan tujuan-tujuan yang bermakna bagi dirinya, sebagai kekuatan pendorong, yang tersembunyi di dalam belajar yang bermakna tadi.
4. Dia mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang paling luas dan mudah dimanfaatkan para siswa untuk membantu mencapai tujuan mereka.
5. Dia menempatkan dirinya sendiri sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk dapat dimanfaatkan oleh kelompok.
6. Di dalam menanggapi ungkapan-ungkapan di dalam kelompok kelas, dan menerima baik isi yang bersifat intelektual dan sikap-sikap perasaan dan mencoba untuk menanggapi dengan cara yang sesuai, baik bagi individual ataupun bagi kelompok
7. Bilamana cuaca penerima kelas telah mantap, fasilitator berangsur-sngsur dapat berperanan sebagai seorang siswa yang turut berpartisipasi, seorang anggota kelompok, dan turut menyatakan pendangannya sebagai seorang individu, seperti siswa yang lain.
8. Dia mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam kelompok, perasaannya dan juga pikirannya dengan tidak menuntut dan juga tidak memaksakan, tetapi sebagai suatu andil secara pribadi yang boleh saja digunakan atau ditolak oleh siswa
9. Dia harus tetap waspada terhadap ungkapan-ungkapan yang menandakan adanya perasaan yang dalam dan kuat selama belajar
10. Di dalam berperan sebagai seorang fasilitator, pimpinan harus mencoba untuk menganali dan menerima keterbatasan-keterbatasannya sendiri.

Sumber:
1. Psikologi Belajar: Dr. Mulyati, M.Pd
2. Psikologi Belajar: Drs. H. Abu Ahmadi dan Drs. Widodo Supriyono
3. Psikologi Pendidikan: Sugihartono,dkk
4. Psikologi Pendidikan: Rochman Natawidjaya dan Moein Moesa
5. Landasan Kependidikan: Prof. Dr. Made Pidarta

Baca Selengkapnya..

TEORI BELAJAR GESTALT


Pada mulanya teori-teori belajar di kembangkan oleh para ahli psikologi dan dicobakan tidak langsung pada manusia di sekolah melainkan melainkan menggunakan percobaan dengan binatang. Mereka beranggapan bahwa hasil percobaannya akan dapat diterapkan pada proses belajar mengajar untuk manusia disekolah...

Sehubungan dengan itu maka kegiatan belajar cendrung di ketahui sebagai suatu proses psikologis, terjadi di dalam diri seseorang. Oleh karena itu sulit di ketahui dengan pasti bagaimana terjadinya, karena prosesnya begitu kompleks maka timbulah teori-teori belajar.
A. Pengantar Teori Gestalt.
Perintis teori Gestalt ini ialah Chr. Von Ehrenfels, dengan karyanya “Uber Gestaltqualitation“ (1890). Aliran ini menekankan pentingnya keseluruhan yaitu sesuatu yang melebihi jumlah unsure-unsurnya dan timbul lebih dulu dari pada bagian-bagiannya. Pengikut-pengikut aliran psikologi Gestalt mengemukakan konsepsi yang berlawanan dengan konsepsi aliran-aliran lain . Bagi yang mengikuti aliran Gestalt perkembangan itu adalah proses diferensiasi. Dalam proses diferensiasi itu yang primer ialah keseluruhan , sedangkan bagian –bagiannya adalah sekunder; bagian-bagian hanya mempunyai arti sebagai bagian dari pada keseluruhan dalam hubungan fungsional dengan bagian-bagian yang lain ; keseluruhan ada terlebih dahulu baru disusul oleh bagian-bagiannya. Contohnya kalau kita bertemu dengan seorang teman misalnya, dari kejahuan yang kita saksikan terlebih dahulu bukanlah bajunya yang baru , melainkan teman kita itu secara keseluruhan selanjutnya baru kemudian kita saksikan adanya hal-hal khusus tertentu misalnya baju yang baru.
Selanjutnya Wertheimer, seorang yang di pandang pendiri aliran ini mengemukakan eksperimennya mengenai “Scheinbewegung“ (gerak semu) memberikan kesimpulan, bahwa pengamatan mengandung hal yang melebihi jumlah unsur-unsurnya. Penelitian dalam bidang optik ini juga di pandang berlaku ( kesimpulan serta prinsip-prinsipnya ) di bidang lain, seperti misalnya di bidang belajar.

B. Pokok-pokok Teori Belajar Gestalt.
Psikologi Gestalt bermula pada lapangan pengamatan ( persepsi ) dan mencapai sukses yang terbesar juga dalam lapangan ini. Demonstrasinya mengenai peranan latar belakang dan organisasinya terhadap proses-proses yang diamati secara fenomenal demikian meyakinkan sehingga boleh dikatakan tidak dapat di bantah.
Ketika para ahli Psikologi Gestalt beralih dari masalah pengamatan ke masalah belajar, maka hasil-hasil yang telah kuat / sukses dalam penelitian mengenai pengamatan itu dibawanya dalam studi mengenai belajar . Karena asumsi bahwa hukum –hukum atau prinsip-prinsip yang berlaku pada proses pengamatan dapat ditransfer kepada hal belajar, maka untuk memahami proses belajar orang perlu memahami hukum-hukum yang menguasai proses pengamatan itu.
Pada pengamatan itu menekankan perhatian pada bentuk yang terorganisasi (organized form) dan pola persepsi manusia . Pemahaman dan persepsi tentang hubungan-hubungan dalam kebulatan (entities) adalah sangat esensial dalam belajar. Psikologi Gestalt ini terkenal juga sebagai teori medan (field) atau lazim disebut cognitive field theory. Kelompok pemikiran ini sependapat pada suatu hal yakni suatu prinsip dasar bahwa pengalaman manusia memiliki kekayaan medan yang memuat fenomena keseluruhan lebuh dari pada bagian- bagiannya.

Keseluruhan ini memberikan beberapa prinsip belajar yang penting, antara lain :
1. Manusia bereaksi dengan lingkunganya secara keseluruhan, tidak hanya secara intelektual, tetapi juga secara fisik, emosional,sosial dan sebagainya
2. Belajar adalah penyesuaian diri dengan lingkungan.
3. Manusia berkembang sebagai keseluruhan sejak dari kecil sampai dewasa, lengkap dengan segala aspek-aspeknya.
4. Belajar adalah perkembangan kearah diferensiasi ynag lebih luas.
5. Belajar hanya berhasil, apabila tercapai kematangan untuk memperoleh insight.
6. Tidak mungkin ada belajar tanpa ada kemauan untuk belajar, motivasi membei dorongan yang mengerakan seluruh organisme.
7. Belajar akan berhasil kalau ada tujuan.
8. Belajar merupakan suatu proses bila seseorang itu aktif, bukan ibarat suatu bejana yang diisi.

Belajar sangat menguntungkan untuk kegiatan memecahakan masalah. Hal ini nampaknya juga relevan dengan konsep teori belajar yang diawali dengan suatu pengamatan. Belajar memecahkan masalah diperlukan suatu pengamatan secara cermat dan lengkap. Kemudian bagaiman seseorang itu dapat memecahknan masalah mrnurut J. Dewey ada 5 upaya pemecahannya yakni:
1. Realisasi adanya masalah. Jadi harus memehami apa masalahnya dan juga harus dapat merumuskan
2. Mengajukan hipotesa, sebagai suatu jalan yang mungkin memberi arah pemecahan masalah.
3. Mengumpulkan data atau informasi, dengan bacaan atau sumber-sumber lain.
4. Menilai dan mencobakan usah pembuktian hipotesa dengan keterangan-keterangan yang diperoleh.
5. Mengambil kesimpulan, membuat laporan atau membuat sesuatu dengan hasil pemecahan soal itu.
Teori medan ini mengibaratkan pengalaman manusia sebagai lagu atau melodi yang lebih daripada kumpulan not, demikian pila pengalaman manusia tidak dapat dipersepsi sebagai sesuatu yang terisolasi dari lingkungannya. Dengan kata lain berbeda dengan teori asosiasi maka toeri medan ini melihat makna dari suatu fenomena yang relatif terhadap lingkungannya. Sesuatu dipersepsi sebagai pendek jika objek lain lebih panjang. Warna abu-abu akan terlihat lebih cerah pada bidang berlaatr belakang hitam pekat. Warna abu-abu akan terliaht biru pada latar berwarna kuning.

Belajar melibatkanproses mengorganisasikan pengalaman-pengalaman kedalam pola-pola yang sistematis dan bermakna. Belajar bukan merupakan penjumalahan (aditif), sebaliknya belajar mulai dengan mempersepsi keseluruhan, lambat laun terjadi proses diferensiasi, yakni menangkapbagian bagian dan detail suatu objek pengalaman. Dengan memahami bagian / detail, maka persepsi awalakan keseluruhan objek yang semula masih agak kabur menjadi semakin jelas. Belajar menurut paham ini merupakan bagian dari masalah yang lebih besar yakni mengorganisasikan persepsi kedalam suatu struktur yang lebih kompleks yang makin menambah pemahaman akan medan. Medan diartikan sebagaikeseluruhan dunia yang bersifat psikologis. Seseorang meraksi terhadap lingkungan seauai dengan persepsinya terhadap lingkungan pada saat tersebut. Manusia mempersepsi lingkungan secara selektif, tidak semua objek masuk kedalam fokus persepsi individu, sebagian berfungsi hanya sebagai latar.
Tekanan ke-2 pada psikologi medan ini adalah sifat bertujuandari prilaku manusia. Individu menetaokan tujuan berdasarkan tilikan (insight) terhadap situasi yang dihadapinya. Prilakunya akan dinilai cerdas atau dungu tergantung kepada memdai atau tidaknya pemahamanya akan situasi

C. Hukum-Hukum Belajar Gestalt
Dalam hukum-hukum belajar Gestalt ini ada satu hukum pokok , yaitu hukum Pragnaz, dan empat hukum tambahan (subsider) yang tunduk kepada hukum yang pokok itu,yaitu hukum –hukum keterdekatan , ketertutupan, kesamaan , dan kontinuitas.
1. Hukum Pragnaz.
Hukum Pragnaz ini menunjukkan tentang berarahnya segala kejadian , yaitu berarah kepada Pragnaz itu, yaitu suatu keadaan yang seimbang, suatu Gestalt yang baik. Gestalt yang baik , keadaan yang seimbang ini mencakup sifat-sifat keturunan, kesederhanaan ,kestabilan, simetri dan sebagainya.
Medan pengamatan ,jadi juga setiap hal yang dihadapi oleh individu, mempunyai sifat dinamis, yaitu cendrung untuk menuju keadaan Pragnaz itu , keadaan seimbang . Keadaan yang problematis adalah keadaan yang tidak Pragnaz, tidak teratur, tidak sederhana, tidak stabil, tidak simetri , dan sebagainya dan pemecahan problem itu ialah mengadakan perubahan kedalam struktur medan atau hal itu dengan memasukkan hal-hal yang dapat membawa hal problematis ke sifat Pragnaz.
2. Hukum-hukum tambahan
Ahli-ahli psikologi Gestalt telah mengadakan penelitian secara luas dalam bidang penglihatan dan akhirnya mereka menemukan bahwaobjek-objek penglihatan itu membentuk diri menjadi Gestalt-gestalt menurut prinsip-prinsip tertentu. Adapun prisip-prinsip tersebut dapat dilihat pada hukum-hukumyaitu :
1. Hukum keterdekatan
2. Hukum ketertutupan
3. Hukum kesamaan
Selain dari hukum-hukum tambahan tersebut menurut aliran teori belajar gestalt ini bahwa seseorang dikatan belajar jika mendapatkan insight. Insight ini diperoleh kalau seseorang melihat hubungan tertentu antara berbagai unsur dalan situasi tertentu. Dengan adanya insight maka didapatlah pemecahan problem, dimengertinya persoalan ; inilah inti belajar. Jadi yang penting bukanlah mengulang- ulang hal yang harus dipelajari, tetapi mengertinya, mendapatkan insight. Adapun timbulnya insight itu tergantung
a. Kesangupan
Maksudnya kesanguapan atau kemampuan intelegensi individu.
b. Pengalaman
Karena belajar, berati akan mendapatkan pengalaman dan pengalaman itu mempermudah munculnya insght.
c. Taraf kompleksitas dari suatu situasi.
Dimana semakin komplek situasinya semakin sulit masalah yang dihadapi.
d. Latihan
Dengan banyaknya latihan akan dapat mempertinggi kesangupan memperoleh insght, dalam situasi-situasi yang bersamaan yang telah dilatih .
e. Trial and eror
Sering seseorang itu tidak dapat memecahkan suatu masalah. Baru setelah mengadakan percobaan-percobaan, sesorang itu dapat menemukan hubungan berbagai unsur dalam problem itu, sehingga akhirnya menemukan insight.

Menurut Hilgard(1948 : 190-195) memberikan enam macam sifat khas belajar dengan insight :
1. Insight termasuk pada kemampuan dasar
Kemampuan dasar berbeda-beda dari individu yang satu ke individu yang lain. Pada umumnya anak yang masih sangat muda sukar untuk belajar dengan insight ini.
2. Insight itu tergantung pengalaman masa lampau yang relevan.
3. Insight tergantung kepada pengaturan secara eksperimental
4. Insight itu didahului oleh suatu periode coba-coba
5. Belajar dengan insight itu dapat diulangi
6. Insight yang telah sekali didapatkan dapat dipergunakan untuk menghadapi situasi-situasi yang baru

D. Penerapan teori Gestalt dalam proses belajar
Sebelum membahas teori Gestalt dalam proses belajar ada baiknya membahas prinsip-prinsip belajar menurut teori ini yaitu:
a. Belajar berdasarkan keseluruhan
Orang berusaha menghubungkan suatu pelajaran dengan pelajaran lainnya sebanyak mungkin.mata pelajaran ayng dibuat lebih mudah dari pada bagin-bagianya
b. Belajar adalah suatu proses perkembangan
Seseorang baru dapat mempelajari dan merencanakan bila ia telah matang untuk menerima bahan pelajaran itu sebagai suatu organisme yang berkembang, kesedian mempelajari sesuatu tidak hanya ditentukan oleh kematangan jiwa batiniah,tetapi juga perkembangankarena limhkungan dan pengalaman.
c. Siswa sebagai organisme keseluruhan
Siswa belajar tidak hanya intelektualnya saja, tetapi juga emosional dan jasmaniahnya.
d. Terjadi transfer
Belajar pada pokoknya yang terpenting pada penyesuaian pertama yaitu memperoleh respon yang tepat. Mudah atau sukarnya problem itu terutama adalah masalah pengamatan, bila dalam suatu kemampuan telah dikuasai betul-betulmaka dapat dipindahkan pada kemampuan lainya.
e. Belajar adalah reorganisasi pengalaman
Belajar itu baru timbul bila seseorang menemui situasi/soal baru. Dalam menghadapi itu ia akan mengunakan pengalaman yang telah dimiliki.
f. Belajar dengan insight
Insight suatu saat dalam prosews belajar dimana seseoranng melihat pengertian mengenai sangkut paut dan hubungan-hubungan tertentu dalam unsur yang mengandung suatu problem.
g. Belajar lebih berhasil bila berhubungan dengan minat, keinginan dan tujuan siswa
Hal ini terjadi bila banyak berhubungan dengan apa yang diperlukan siswa dalam kehidupan sehari-hari. Disekolah progresif, siswa diajak membicarakan tentang proyek / unit agar tahu tujuan yang akan dicapai dan yakin akan manfaatnya.
h. Berlajar berlangsung terus-menerus
Siswa memperoleh pengetahuan tidak hanya disekolah tetapi juga diluar sekolah, dalam pergaulan, memperoleh pengalaman-pengalaman tersendiri, karna itu sekolah haru bekerjasama dengan orang tua dan masyarakat, agar semua turut serta membantu perkembangan siswa secara harmonis.
Setelah membahas prinsip-prinsip teori Gestalt dapat diterapkan dalam porses belajar sebagai berikut :
1. Aktivitas suatu cabang olahraga harus dilakukan secara keseluruhan, bukan sebagai pelaksanaan gerak secara terpisah-pisah. Karena itu guru atau pelatih harus menanamkan pengertian agar siswa ataua atlet sadar aka keseluruahn kegiatan. Dengan kata lain , pemecahan keseluruahn aktivitas menjadi bagian-bagian yang teroisah akan menyebabkan siswa tidak mampu mengaitkan bagian-bagian tersebut. Karenaitu keuntungan utama dari keseluruahn permaianan yaitu menuntut siswa untuk mempersatukan bagian menjadi sebuah unit yang terpadu.
2. Tugas utama dari guru atau pelatih adalah untuk memaksimumkan transfer dari latihan diantara berbagai kegiatan. Bagi para penganut teori Gestalt, pola umum atau konfigurasi perlu untuk mempermulus terjadinya transfer diantara berbagai kegiatan.
3. Faktor insight penting untuk memecahkan masalah. Kapasitas individu untuk memecahkan masalah dalam olahraga yang sering muncul berupa sebuah gerakan refleks tergantung pada keterampilan dasar untuk melakukan gerakan yang kompleks. Karean, itu mental practis dapat dipergunakan sebagai suatu prosedur yang bermanfaat untuk memperlancar proses belajar.
4. Pemahaman tentang hubungan antara bagian-bagian dengan suatu keseluruhan penting bagi peragaan keterampilan yang efektif, karena itu seoarang pemain sepak bola misalnya, harus memiliki pemahaman kaiatn antara posisi bola, dan rangkaian dan geraknya sendiri sebelum dan sesudah dia melakukan suatu teknik seperti menendang bola, atau teknk lainya. Salah satu kelemahan dari proses pengajaran atau kepelatihan ialah kegagalan pelatih atua guru olahraga untuk menyampaikan informasi yamng menuntut atlet atau siswa untuk memperoleh pemahaman yang mendalam tentang kaitan antara bagian-bagian didalam konteks keseluruhan

Baca Selengkapnya..

Facebook Status

Komentar Terkini

Posting Terkini

STIT IBNU RUSYD GROGOT KABUPATEN PASER KALTIM ©Blog Dikelola Oleh DR. ISKANDAR Z, M.A..

TOPO